Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Persepsi Ummat Mengenai Jabatan dan Penggunaan Fasilitas Negara Oleh Pejabat Negara.

Assalamu alaikum..

Suatu malam, Umar bin Abdul Aziz terlihat sibuk merampungkan sejumlah tugas di ruang kerja istananya. Tak dinyana, putranya masuk ruangan dan hendak membericarakan sesuatu.

”Untuk urusan apa putraku datang ke sini: urusan negarakah atau keluargakah?” tanya Umar.

”Urusan keluarga, ayahanda,” jawab si anak.

Tiba-tiba Umar mematikan lampu penerang di atas mejanya. Seketika suasana menjadi gelap.

”Kenapa ayah memadamkan lampu itu?” tanya putranya merasa heran.

”Putraku, lampu yang sedang ayah pakai bekerja ini milik negara. Minyak yang digunakan juga dibeli dengan uang negara. Sementara perkara yang akan kita bahas adalah urusan keluarga,” jelas Umar.

Umar kemudian meminta pembantunya mengambil lampu dari ruang dalam.

"Nah, sekarang lampu yang kita nyalakan ini adalah milik keluarga kita. Minyaknya pun dibeli dengan uang kita sendiri. Silakan putraku memulai pembicaraan dengan ayah."

Begitulah perangai pejabat sejati. Ternyata, puncak kejayaan di berbagai bidang tak lantas membuat Umar bin Abdul Aziz terperdaya. Meski prestasinya banyak dipuji, pemimpin berjuluk ”khalifah kelima” ini tetap bersahaja, amanah, dan sangat hati-hati mengelola aset negara. 


Dari kisah diatas, dapat kita kita saksikan bagaimana sosok pejabat pemerintahan yang amanah dalam mengggunakan fasilitas negara. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menjelaskan, cara menyikapi permasalahan mengenai jabatan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehatkan kepada Abdurrahman bin Samurah :
“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong). ”
[HR Bukhari dalam Shahih-nya no. 7146]

Masih berkaitan dengan permasalahan diatas, juga didapatkan riwayat dari Abu Dzar Al-Ghifari. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pemimpin?” Mendengar permintaanku tersebut beliau menepuk pundakku seraya bersabda: “Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut. ” 
[Shahih, HR. Muslim no. 1825]

Begitu juga dengan para ulama  menyikapi permasalahan jabatan, berkata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin: “Seseorang yang meminta jabatan seringnya bertujuan untuk meninggikan dirinya di hadapan manusia, menguasai mereka, memerintahnya dan melarangnya. Tentunya tujuan yang demikian ini jelek adanya. Maka sebagai balasannya, ia tidak akan mendapatkan bagiannya nanti di akhirat. Oleh karena itu seseorang dilarang untuk meminta jabatan. ” 
[Syarh Riyadhdus Shalihin, 2/469]


Berkata Al-Muhallab sebagaimana dinukilkan dalam Fathul Bari (13/135): “Ambisi untuk memperoleh jabatan kepemimpinan merupakan faktor yang mendorong manusia untuk saling membunuh. Hingga tertumpahlah darah, dirampasnya harta, dihalalkannya kemaluan-kemaluan wanita (yang mana itu semuanya sebenarnya diharamkan oleh Allah) dan karenanya terjadi kerusakan yang besar di permukaan bumi. ”
Dari untaian dalil diatas,jeas sekali bahwa Rasulullah serta Ulama generasi awal (salafush shalih) telah mengetahui efek buruk yang timbul ditengah ummat tatkala rasa cinta terhadap jabatan telah merasuki jiwa dan pola berfikir masyarakat. 
Fenomena tersebut dapat kita saksikan saat ini, disaat ajang pemilu sedang digelar.. Berbagai kerusakan moral dengan jelas dapat kita saksikan, dari mulai politik uang (money politics), kampanye negatif terhadap rival politik (black campaign), penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan kampanye capres, kampanye terbuka yang menampilkan atraksi dari artis dangdut berbusana minim serta dilengkapi dengan gerakan erotis. Semua kemaksiatan dengan jelas mewarnai peristiwa yang disebut sebagai PESTA DEMOKRASI.
Para elit politik seolah sengaja melupakan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah mengenai kompensasi yang akan diberikan kepada pejabat/pemimpin yang bersifat korup dan khianat terhadap rakyat, serta tak mampu menjalankan tugasnya dengan baik, yaitu siksa yang berat di akhirat kelak, yaitu siksa yang pedih di neraka.

Sahabatku, semoga artikael ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi acuan bagi opini kita, bahwa jabatan, kekeuasaan serta kehormatan jangan sampai membutakan mata hati kita. 
Barokallahu fiikum, wabillahi taufiq wal hidayah, assalamu alaikum warrohmatullahi wabarokatuh.
Follow my FB account
https://www.facebook.com/asyhaduamrin2

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Do'a Untuk Mempelai

Assalamu alaikum.

Ketika menerima sepucuk surat undangan pernikahan, kebanyakan orang akan segera berfikir untuk memberikan hadiah yang tepat bagi mempelai. Ada yg ingin memberikan kado, karangan bunga, ada juga yang segera mempersiapkan amplop berisi sejumlah uang untuk "menyumbang" kepada mempelai tersebut.

Walimatul 'Ursy, adalah istilah yang artinya adalah "Pesta Pernikahan".

Perintah menggelar walimatul ursy terdapat dalam dalil:
 Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersabda, ”Umumkan pernikahan!”
 (Hasan: Shahih Ibnu Majah no:1537 dan Shahih Ibnu Hibban hal.313 no:1285)

“Tidaklah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelenggarakan walimah ketika menikahi istri-istrinya dengan sesuatu yang seperti beliau lakukan ketika walimah dengan Zainab. Beliau menyembelih kambing untuk acara walimahnya dengan Zainab.” (HR. Al-Bukhari no. 5168 dan Muslim no. 3489)


Adapun memenuhi undangan pesta pernikahan dijelaskan dalam dalil:
AbuHurairah radhiallahu anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Hak muslim atas muslim lainnya ada lima: Menjawab salam,menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, & mendoakan orang yang bersin”.
(HR. Al-Bukhari no. 1240 & Muslim no. 2162)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Jika kalian diundang walimah, sambutlah undangan itu (baik undangan perkawinan atau yanglainnya). Barangsiapa yang tidak menyambut undangan itu berarti ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” 
(HR. Bukhari 9/198, Muslim 4/152, dan Ahmad no. 6337 dan Al-Baihaqi 7/262 dari Ibnu Umar).

Namun perlu dicermati, bahwa tidak semua walimatul ursy baik nilainya, jika walimatul ursy hanya mengundang orang-orang kaya saja.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah dimana yang diundang dalam walimah tersebut hanya orang-orang kaya sementara orang-orang miskin tidak diundang.” (HR. Al-Bukhari no. 5177 dan Muslim no. 3507)

Dari rangkaian dalil diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa tujuan digelarnya walimatul ursy antara lain:
1. Mengabarkan pernikahan.
2. Bershodaqoh makanan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat pernikahan yang diberikan oleh Allah.
3. Mempererat tali silaturrahim.
4. Mendo'akan mempelai agar pernikahannya mendapat keberkahan dari Allah.

Namun realitasnya, pelaksanaan walimatul ursy dewasa ini telah jauh melenceng dari tujuan semula, walimatul ursy telah diaanggap sebagai ajang adu gengsi serta bentuk bisnis yang mengharapkan sumbangan serta uang saweran dari para tamu undangan. Tidak sedikit kita mendapat surat undangan pernikahan yang didalamnya disematkan kalimat "Dengan tidak mengurangi rasa hormat, kami akan berterimakasih sekali jika tanda kasih yang anda berikan tidak berupa cinderamata atau karangan bunga"

Dan para tamu juga terlena dengan kondisi pemikiran tuan rumah, sehingga yang terfokus dalam benaknya adalah niat menghadiri pernikahan tidak lain untuk menyumbang sejumlah uang kepada pihak mempelai. Terlebih lagi, para tamu menganggap sumbangan yang diberikan sebagai "hutang/piutang" yang kelak wajib dikembalikan kepadanya jika tamu tersebut kelak menggelar pesta pernikahan serupa. tak lupa tamu yang menyumbang lantas menuliskan namanya pada amplop pembungkus uang sumbangan tersebut,

Saking sibuknya mengurus uang sumbangan, si tamu tak jarang lupa pula mendo'akan memepelai.

Ironis sekali..


Mungkinkah ummat muslim saat ini sudah lebih cenderung mengutamakan gengsi dan mengabaikan pentingnya ibadah kepada Allah ?

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian dan mampu melaksanakan ibadah sesuai fungsi yang diajarkan olsh Rasulullah.

Sebagai bahan masukan, saya cantumkan juga do'a yang disampaikan oleh tamu kepada mempelai:

"BAROKALLAH LAKA WA BARAKA 'ALAIKA WA JAMA'A BAINAKUMA FIL KHAIR (semoga Allah memberi berkah kepadamu & keberkahan atas pernikahan kamu, & mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan). (Abu Isa At Tirmidzi) berkata; Hadits semakna diriwayatkan dari 'Aqil bin Abu Thalib. Abu Isa berkata; Hadits Abu Hurairah merupakan hadits hasan sahih."
[HR. Tirmidzi No.1011]

 Semoga bermanfaat.

Wa billahi taufiq wal hidayah, assalamu alaikum warrohmatullahi wabarokatuh.
https://www.facebook.com/asyhaduamrin2?fref=photo

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BEGINILAH PEMIMPIN HARUS BERSIKAP

Belajar dari keteladan Khalifah Umar bin Abdul Azis.

Ketika Umar bin Abdul Azis mendapat promosi, dari Gubernur Madinah menjadi Khalifah, ia menangis dan pingsan. Ia menyatakan, bahwa beban kewajiban seberat ribuan gunung telah diletakan kepundaknya, pada hal untuk mengurus diri sendiri pun ia merasa belum mampu. Sekarang di beri amanah mengurus umat. Setelah Umar bin Abdul Azis RA dilantik menjadi Khalifah, beliau pergi ke mushallahnya dan menangis tersedu-sedu. Ketika ditanyakan kepadanya tentang penyebab tangisnya, beliau menjawab,” aku memikul amanat umat ini dan aku tangisi orang -orang yang menjadi amanat atasku, yaitu kaum fakir miskin yang lemah dan lapar, ibnu sabil yang kehilangan tujuan dan terlantar, orang-orang yang di zalimi dan di paksa menerimanya, orang-orang yang banyak anaknya dan berat beban hidupnya. Merasa bertanggung jawab atas beban mereka, karena itu, aku menangisi diriku sendiri karena beratnya amanat atas diriku.”
Konon semasa ia menjabat sebagai Khalifah, tak satu pun mahluk dinegerinya menderita kelaparan. Tak ada serigala mencuri ternak penduduk kota, tak ada pengemis di sudut-sudut kota, tak ada penerima zakat karena setiap orang mampu membayar zakat. Lebih mengagumkan lagi, penjara sedikit penghuninya. Sejak di angkat menjadi Khalifah Umar bertekad,dalam hatinya ia berjanji tidak akan mengecewakan amanah yang diembannya.

Mari kita cermati kondisi yang terjadi saat ini kemudian membandingkan dengan kisah Khalifah Umar bin Abdul Azis, sungguh sangat bertolak belakang.
Para elit politik berebut menduduki jabatan tertinggi, bahkan rela menggelontorkan dana ratusan milyar demi memperoleh jabatan yang diinginkannya. Para tim suksesnya saling menebar hujatan, fitnah, black campaign untuk menjatuhkan kredibilitas rival politiknya.
Tak ayal setelah menang, para pejabat justru sibuk untuk mengembalikan modal kampanye yang pernah digunakan. Berbagai tender pemerintahan disetujui pelaksanaanya apabila sesuai jumlah uang suapnya. Berbagai asset serta kekayaan alam Indonesia "diserahkan" kepada pihak asing. Para elit politik yang menduduki jabatan strategis di pemerintahan sibuk memperkaya diri,sementara rakyat harus terjerembab ke dalam berbagai kesulitan ekonomi.

Sudah saatnya ummat muslim cerdas dalam memilih pemimpin, tinggalkan politikus yang sistem money politics. Semoga kelak Allah utus seorang pemimpin yang amanah dan ikhlash berjuang dan mengabdi demi masyarakat.

Barokallahu lana wa lakum.

Follow me at Facebook.
https://www.facebook.com/asyhaduamrin2

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Do'a Memohon Dijadikan Orang Yang Mendirikan Sholat

Sholat adalah tiang agama Islam.
Agama Islam diturunkan tidak lain untuk memperbaiki akhlaq insan.

Dengan sholat, maka kita akan terhindar dari segala sifat buruk.

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar .” (QS. Al ‘Ankabut: 45).

Begitu pentingnya sholat bagi kita, sehingga sangat disayangkan jika kita tidak mendirikan sholat.

Yuk, sama2 berdo'a:

ﺭَﺏِّ ﺍﺟْﻌَﻠْﻨِﻲ ﻣُﻘِﻴﻢَ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻭَﻣِﻦ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻲ ۚ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﺗَﻘَﺒَّﻞْ ﺩُﻋَﺎﺀ

"Robbij'alnii muqiimaash sholati wamin zhurriyyatii,
rabbana wattaqobbal duaa.."

"Ya Rabb-ku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb-kami, kabulkanlah do'aku." – (QS.14:40)

Aamiin..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

WANITA YANG PERTAMA KALI MASUK SYURGA

Assalamu alaikum..

 

Fatimah Az-Zahra, walaupun putri kesayangan Rasulullah SAW, namun tidak pernah manja. Pantang baginya meminta sesuatu kepada sang ayah. Hidupnya sederhana, dan taat beribadah.

Sebagai seorang istri, serta ibu dari Hasan dan Husein, Fatimah selalu sabar dan ikhlas. Tugas kesehariannya dijalani sendiri, seperti menggiling gandum sampai tangannya lecet.

Tidak ragu mengangkut air untuk kebutuhan keluarga hingga alasnya berbekas di dadanya. Rumah Fatimah selalu bersih, dan rapi berkat keuletannya mengurus perabotan di rumah.

Suatu hari Fatimah menanyakan kepada ayahnya, siapakah perempuan yang pertama kali masuk surga? Rasulullah menjawab, “Wahai Fatimah, jika engkau ingin mengetahui perempuan pertama masuk surga, selain Ummul Mukminin, dia adalah Ummu Mutiah.”

“Siapakah Mutiah itu, ya Rasulullah? Di manakah dia tinggal?” tanya Fatimah penasaran. Karena tidak ada yang mengenal Mutiah. Rasulullah menjelaskan, Ummu Mutiah yang dimaksud adalah perempuan yang tinggal di pinggiran Kota Madinah.

Jawaban itu membuat Fatimah tercengang. Ternyata bukan dirinya perempuan yang masuk surga pertama kali. Padahal Fatimah sebagai putri Rasulullah, dan telah menjalankan ibadah, amalan, serta bermuamalah dengan baik.

Untuk memenuhi rasa penasaran, Fatimah berkunjung ke rumah Mutiah di pinggiran Madinah. Dia ingin menyelidiki amalan dan ibadah apa yang dilakukan Mutiah hingga Rasulullah menyebut namanya sebagai perempuan terhormat.

Keesokan harinya, Fatimah pamit kepada suaminya mengunjungi kediaman Mutiah. Dia mengajak putranya Hasan. Setelah mengetuk pintu, memberi salam, terdengar suara dari dalam rumah. “Siapa di luar?” tanya Mutiah.

Fatimah menjawab, “Saya Fatimah, putri Rasulullah.”

Mutiah belum mau membuka pintu, malah balik bertanya, “Ada keperluan apa?”

Fatimah menjawab, ingin bersilaturahim saja. Dari dalam rumah Mutiah kembali bertanya, “Anda seorang diri atau bersama yang lain?”
“Saya bersama Hasan, putra saya,” jawab Fatimah dengan sabar.

“Maaf, Fatimah,” kata Mutiah, “Saya belum mendapat izin dari suami untuk menerima tamu laki-laki.”

“Tetapi Hasan anak-anak,” balas Fatimah.

“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga. Besok saja kembali lagi setelah saya mendapat izin dari suami saya,” timpal Mutiah.

Fatimah tidak bisa menolak. Setelah mengucapkan salam ia bersama Hasan meninggalkan kediaman Mutiah.

Keesokan harinya, Fatimah kembali mengunjungi rumah Ummu Mutiah. Kali ini bukan hanya Hasan yang ikut, Husein pun ingin ikut ibunya. Tiba dikediaman Ummu Mutiah, terjadi lagi dialog dari balik pintu.

Menurut Mutiah, suaminya telah mengizinkan Hasan masuk ke rumahnya. Sebelum pintu dibuka, Fatimah mengatakan, kali ini bukan hanya Hasan yang ikut, melainkan bertiga bersama Husein. Mendengar jawaban Fatimah, Mutiah urung membukakan pintu.

Mutiah menanyakan, apakah Husein seorang perempuan? Fatimah meyakinkan Mutiah bahwa, Husein cucu Rasulullah, saudaranya Hasan. “Dia seorang anak laki-laki.”

“Saya belum meminta izin kepada suami kalau Husein mau berkunjung ke rumah ini,” kata Mutiah.

“Tapi Husein masih anak-anak,” tegas Fatimah.

“Walaupun anak-anak, Husein laki-laki juga. Maafkan Fatimah, bagaimana kalau kembali besok, setelah saya meminta izin kepada suami,” kata Mutiah.

Fatimah tidak bisa memaksa Mutiah. Dia bersama Hasan dan Husein kembali pulang, namun besok berjanji untuk datang lagi.

Keesokan harinya, Mutiah menyambut kedatangan Fatimah bersama Hasan dan Husein dengan gembira. Kali ini kehadiran Hasan dan Husein telah mendapat izin dari suaminya. Fatimah pun bersemangat ingin segera ‘menyelidiki’ ibadah, amalan, dan muamalah apa saja yang dilakukan perempuan pertama masuk surga ini.

Keadaan rumah Mutiah jauh dari yang dibayangkan Fatimah. Rumahnya sangat sederhana, tanpa perabotan mewah. Namun, semuanya tertata rapi dan bersih. Tempat tidur beralaskan seprai putih yang harum. Setiap sudut ruangan tampak segar dan wangi membuat penghuninya senang berlama-lama di rumah. Hasan dan Husein pun merasa betah bermain di kediaman Ummu Mutiah.

Selama berkunjung, Fatimah tidak menemukan sesuatu yang istimewa dilakukan Mutiah. Namun, Ummu Mutiah kelihatan sibuk mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu. “Maaf Fatimah, saya tidak bisa duduk tenang menemanimu, karena saya harus menyiapkan makanan untuk suami,” ungkap Mutiah yang terlihat sibuk.

Mendekati waktu makan siang semua masakan sudah tersedia. Mutiah menuangkan satu per satu makanan di wadah khusus untuk dikirim ke suaminya yang bekerja di ladang. Yang membuat Fatimah heran, selain makanan, Mutiah membawa bekal sebuah cambuk.

“Apakah suamimu penggembala?” tanya Fatimah. Menurut Mutiah, suaminya bekerja sebagai petani, bukan penggembala.

“Lalu, untuk apa cambuk tersebut?” tanya Fatimah semakin penasaran.

Mutiah menjelaskan, cambuk ini sangat penting fungsinya. Jika suami Mutiah merasa masakan istrinya tidak enak, dia ridha cambuk yang ‘bicara’.

Mutiah akan menyerahkan cambuk kepada suaminya untuk dipukulkan ke punggungnya. “Berarti aku tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya,” kata Mutiah.

“Apakah itu kehendak suamimu?” tanya Fatimah.

“Ini bukan kehendak suami. Suamiku orang yang penuh kasih sayang. Semua ini kulakukan karena keinginanku sendiri, agar jangan sampai menjadi istri durhaka kepada suami.”

Jawaban Mutiah menjadi jawaban atas misteri yang selama ini dicari Fatimah. Masya Allah, demi menyenangkan suami, Mutiah rela dicambuk.

“Aku hanya mencari keridhaan dari suami, karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan suami ridha kepada istrinya,” ujar Mutiah.

“Ternyata ini rahasianya,” gumam Fatimah.

Mutiah kini balik heran, “Maksudnya rahasia apa, Fatimah?”

Fatimah menjelaskan bahwa Rasulullah mengatakan dirinya (Ummu Mutiah) adalah perempuan yang diperkenankan masuk surga pertama kali.

“Pantas saja kelak Mutiah menjadi perempuan pertama masuk surga. Dia menjaga diri dan sangat tulus berbakti kepada suami,” ujar Fatimah dalam hati.

Apa yang dilakukan Mutiah bukan simbol perbudakan suami kepada istrinya. Melainkan cermin rasa cinta yang dibalut dengan ketulusan, dan pengorbanan serta dilandasi dengan ketaqwaan dari seorang istri yang patut mendapat balasan surga.

Semoga sahabat wanita bisa menjadi istri yang sholihah, dan sahabat pria bisa menjadi imam yang baik untuk keluarga..

Barokallahu lana wa lakum, wabillahi taufiq wal hidayah, assalamu alaikum warrohmatullahi wabarokatuh.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Muhasabah Diri

Assalamu alaikum..

Dalam benak kita mungkin merasa bahwa diri kita adalah golongan orang-orang beriman, sehingga tidak jarang kita dengan mudah menjustifikasi orang lain dengan sebutan "munafik" atau "kafir".

Sejenak mari kta bermuhasabah diri, mengukur kualitas diri dengan sudut pandang yang jujur, apakah diri kita sudah cukup beriman kepada Allah atau belum  ?

Seperti apa acuan yang benar dalam mengukur kualitas diri ?

Mari simak ciri-ciri orang beriman dalam QS.Al-Anfaal 2-4 dibawah ini:

1." Sesungguhnya orang-orang yang beriman] ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal."

3." (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka."

4. " Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia."

***********

Dari ayat diatas dapat kita tanyakan kepada diri kita sendiri:
- Tergetarkah hati kita saat mendengar nama Allah atau hanya biasa saja ?
- Bertambahkah keimanan kita setelah mendengar ayat-ayatNya atau hanya cuek ?
- Sudahkah kita bertawakkal sepenuhnya hanya kepada Allah atau masih bergantung kepada orang-orang sekitar kita  ?
- Sudahkah kita benar-benar mendirikan sholat  ?
- Sudah banyakkah kita menafkahkan rizki di jalan Allah atau lebih banyak menghamburkan uang untuk membela gengsi  ?


https://www.facebook.com/asyhaduamrin2

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS